Sunday, April 10, 2016

Bunda, Hindarilah Penggunaan Kata "JANGAN" Kala Melarang Anak Melakukan Sesuatu


Vemale - Banyak Mama beranggapan, kata "jangan" cukup ampuh untuk mendisiplinkan anak. Saat melarang si kecil berbuat negatif, kata-kata itu pun langsung meluncur dari mulut Mama. Benarkah hal itu efektif?

Lihat saja hasilnya, sebagian anak seolah abai dan tak mendengar kata-kata orangtua dengan penggunaan "jangan" tersebut. Semua itu terjadi lantaran di usia 3 tahun anak sedang mengembarkan kepercayaan dirinya lewat eksplorasi. Bagi si kecil,  semua benda yang baru ditemuinya sangatlah menakjubkan. Untuk mendukung eksplorasinya, orangtua sebaiknya lebih banyak menggunakan kata-kata positif, serta menghindarkan kalimat negatif.  Hindari kata "jangan" saat melarang anak.


Sedapat mungkin, hindari penggunaan kata "jangan", karena anak tak mengenal makna kata itu. Kenalkan kata-kata positif kepada anak. Akan lebih mudah untuk anak menerima anjuran Mama yang berkata, "Nak pelan-pelan jalannya", daripada berkata, "Awas, jangan lari-larian ya". Seandainya anak terjatuh saat bermain-main, biarkan saja agar ia belajar dari pengalaman, meski orangtua tetap mengawasi dan melindungi anak. Kondisi itu tidak lantas membuat orangtua menjadi "parno" dan berkata sedikit-sedikit "Jangan".

Selain itu, terlalu sering menggunakan kata "jangan" dapat membuat anak lupa arti kata “jangan" yang sesungguhnya. Sebaiknya gunakan kalimat pendek yang lebih jelas sehingga anak tahu mengapa ia harus melakukan dan menghindari suatu hal. Misalnya orangtua berkata ‘jangan naik tangga’ seringkali anak hanya mendengar bagian ‘naik tangga’ saja.' Akibatnya, tidak sedikit anak yang tetap cuek meski orangtua berkali-kali mengatakan "jangan".

Nina juga mengatakan ketidakpahaman orang tua tentang kemampuan anaknya menangkap pesan membuatnya berpikir anaknya justru memberontak dan tidak menuruti perintah orang tuanya. Berikut daftar kalimat menggunakan kata ‘jangan’ yang bisa diubah menjadi kalimat lain yang lebih positif yang justru akan didengar si kecil:

Tahapan Perkembangan Bahasa
* Usia 1 tahun: Anak berada pada tahap linguistic speech yang sangat sederhana dan satu kata bisa mewakili banyak pemikiran lengkap. Anak sudah bisa mengucapkan satu atau dua kata, tetapi cuma sepotong, dan sepotong kata itu bisa punya arti panjang. Contoh, saat anak bilang "bun" dengan maksud Bunda, artinya mungkin saja, "Aku ingin digendong," atau "Aku ingin ikut jalan-jalan bersama bunda."

* Usia 2 tahun:
Sekalipun masih mirip dengan kemampuan di usia satu tahun, tetapi di usia ini anak sudah mampu menggabungkan dua kata atau lebih menjadi satu kalimat yang bermakna dan berarti. Contohnya, "Minum susu," atau "Pergi sana," hingga "Tidak susu. Putih saja."

* Usia 3 tahun:
Anak sering melakukan hal yang sangat menarik perhatian karena ia tengah memasuki tahap membangkang, yaitu melakukan yang dilarang dan tidak melakukan yang diizinkan. Tak heran jika dalam perkembangan bahasanya, anak senang mengatakan sesuatu yang membuat orangtua cemas dan malu, seperti "bego", "mampus", dan kata-kata kasar lainnya. Apalagi jika ditunjang dengan seringnya orangtua melarang anak mengucapkan kata-kata tersebut tanpa penjelasan yang tepat. Belum lagi kosakata yang diperolehnya di usia ini semakin banyak dan tidak melulu hanya dari orangtua.

Selain itu, mulai usia ini juga umumnya anak mengeluarkan kalimat yang kadang terdengar janggal karena susunan kata-katanya tidak tepat alias terbalik-balik, sehingga apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan maksud si anak.

Walaupun begitu, orangtua tak perlu cemas. Hal ini wajar terjadi pada batita, karena:
* Anak pertama kali baru bisa bicara menyambungkan lebih dari satu hingga dua kata hingga membentuk sebuah kalimat yang berarti.
* Anak pertama kali baru bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui bahasa yang mempunyai arti dan bisa dipahami.
* Anak banyak mempunyai kosakata untuk dijadikan sebuah kalimat yang digunakannya saat berkomunikasi.
* Anak mulai memeroleh banyak informasi kata dan kalimat baru yang menarik.
* Kemampuan mengolah kata dalam bentuk kalimat hingga menjadi sebuah bahasa di otaknya masih sangat terbatas.
* Pengalaman berbahasanya masih sangat minim.

CARA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BAHASA
  • Jika cara-cara di bawah ini dilakukan secara terus-menerus dan konsisten, maka anak akan termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya berbahasa dan berkomunikasi dan baik. Inilah beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua saat berkomunikasi dengan si batita: · Gunakan bahasa yang benar, bukan baby talk seperti, "Oh, mau mimi cucu, ya," tapi, "Oh, mau minum susu, ya?"
  • Gunakan kalimat dan kata yang tidak bermakna ganda. Contoh, "Jangan ke sana, bahaya!" Ingat, ke sana itu bisa berarti ke luar rumah, ke tempat cucian, ke dapur, dan ke banyak tempat lainnya. Lebih baik, katakan, "Mainnya di sini aja, tidak di dekat kompor menyala, bahaya!"
  • Gunakan selalu kalimat pendek.
  • Hindari kata-kata kotor dan kasar jika tak ingin anak menirunya.
  • Karena anak masih belajar, orangtua sebaiknya melantunkan bahasa dengan jelas, tidak cepat-cepat dan dengan gerak mulut (bibir dan lidah) yang tegas sehingga mudah dikenali dan diikuti anak.
  • Jika menemukan kesalahan pada kata/kalimat dalam bahasa anak, segera luruskan dengan cara mengulang ucapannya secara benar.



Narasumber:
Ira Puspita, MSi
Pembantu Dekan I Bidang Akademik
Universitas Gunadarma, Depok

Tuesday, March 1, 2016

WASPADAI GEJALA LGBT !! Ini 4 Jurus dari Rasulullah Agar Anak Tidak Terjangkit LGBT



Dalam sebuah tayangan talkshow di sebuah stasiun swasta, seorang psikiater mengatakan bahwa lesbian, gay, biseks dan transgender (LGBT) merupakan kelainan. Ya, LGBT memang meresahkan propaganda dan kampanyenya. Banyak kalangan harus diselamatkan termasuk anak-anak. Lalu, bagaimana ‘jurus’ yang diajarkan Rasulullah SAW agar anak sesuai kodratnya?
Berikut untaian yang diajarkan Rasulullah agar anak laki-laki berperilaku seperti laki-laki sejati dan anak perempuan menjadi perempuan sejati:
  1. Pisahkan tempat tidur sedari kecil”Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat bila mereka telah berumur 7 tahun. Pukullah mereka karena tidak shalat bila telah berumur 10 tahun. Pisahkanlah mereka dari tempat tidur kalian.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Daud, Ad-Daruquthni, Al-Hakim, baihaqi, dan Ahmad)
  2. Ajari olahraga atau mainan yang sesuai dengan gendernya“Ajarilah anak-anak (laki-laki) kalian berkuda, berenang dan memanah” (Riwayat Sahih Bukhari/Muslim)
    Dari Aisyah R.A “Aku biasa bermain-main dengan anak-anakan perempuan (boneka perempuan) di sisi Rasulullah SAW dan kawan-kawanku datang kepadaku, kemudian mereka menyembunyikan boneka-boneka tersebut karena takut kepada Rasulullah SAW tetapi Rasulullah SAW malah senang dengan kedatangan kawan-kawanku itu, kemudian mereka bermain-main bersama aku.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
    Dan dalam salah satu riwayat diterangkan: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pada suatu hari bertanya kepada Aisyah: Apa ini? Jawab Aisyah: Ini anak-anak perempuanku (boneka perempuanku); kemudian Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di tengahnya itu? Jawab Aisyah: Kuda. Rasulullah bertanya lagi: Apa yang di atasnya itu? Jawab Aisyah: Itu dua sayapnya. Kata Rasulullah: Apa ada kuda yang bersayap? Jawab Aisyah: Belumkah engkau mendengar, bahwa Sulaiman bin Daud as mempunyai kuda yang mempunyai beberapa sayap? Kemudian Rasulullah tertawa sehingga nampak gigi gerahamnya.” (Riwayat Abu Daud)
  3. Ajari untuk menutup aurat“Hai Asma, sesungguhnya perempuan itu apabila telah sampai umur/dewasa, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini. Rasulullah berkata sambil menunjukkan kepada muka dan telapak tangan hingga peregelangannya sendiri.” (HR. Abu Dawud dan Aisyah)
  1. Berikan pemahaman bahwa laki tidak boleh menyerupai perempuan dan sebaliknyaDari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885).
    “Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Ahmad no. 3151, 5: 243. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari).

Sunday, February 28, 2016

Astagfirullahaladzim, Anak Nangis Dikira Minta Susu Ternyata...



Menjaga anak emang butuh kewaspadaan ekstra, karena lengah sedikit saja, nyawa bsia jadi taruhannya. Seperti yang dialami bayi satu ini. Awalnya orangtuanya mengira si anak menangis karena menginginkan susu, namun ternyata ada seekor lipan masuk ke dalam telinganya.

FYI, lipan/kelabang merupakan hewan berbisa (mematikan) yang memiliki sepasang kaki di setiap ruas tubuhnya. 


Anak menangis disangka inginkan susu, rupanya sakit digigit lipan yang masuk dalam telinga. Mohon ibu bapa lebih waspada dengan keselamatan anak-anak kecil.


Sumber: Facebook

Thursday, January 28, 2016

Tips Sederhana Mengajarkan Al Quran Pada Anak (Metode Talkin


Telah kita ketahui betapa besar pahala mengajarkan Al-Quran, sebagaimana hadits berikut:

عن عثمان بن عفّان رضي الله عنه عنِ النبيِّ صلى الله عليه و سلّم قال : خيركم من تعلّم القرآن و علّمه

Dari ‘Utsman radhiyallahu’anhu,  dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Quran dan mengajarkannya.” (HR Bukhari no.5027)

Dalam hadits ini tidak ada pembatasan usia tentang usia berapa kita belajar dan  siapakah orang yang kita ajari. Maka kita mengajarkan Al Quran kepada anak juga termasuk kedalam cakupan hadits ini. Namun demikian, tidak semua wanita dapat mengajarkan Al Quran kepada anak (baik anak kandung atau selainnya) dengan baik.

Mengingat begitu besarnya keutamaan mengajarkan Al Quran, saya ingin berbagi tips kepada para pembaca sekalian yang saya ambil dari buku Kurikulum Pendidikan Anak Muslim yang ditulis oleh Syaikh Fuhaim Musthafa.

1. Sebelum pengajar mulai membacakan surat, ia harus mengingatkan anak agar memusatkan perhatiannya terhadap apa yang akan dibacakan. Yang demikian itu supaya hal-hal berikut dapat terwujud :
  • Anak menyimak bacaan pengajar sehingga bisa menirukan setiap harakat huruf, ketika berhenti saat waqaf pada tempat –tempat berhenti serta cara mengucapkan huruf per huruf secara benar.
  • Hati anak menjadi khusyu’, tenang, dan menghormati bacaan Al Quran saat mendengarkannya.Melatih anak membaca Al-Quran langsung dari mushaf. Di samping itu juga memperkenalkan kepadanya tanda-tanda waqaf dan istilah-istilah untuk memperbaiki bacaan pada setiap ayat seperti, mad, idgham, sukun, menebalkan huruf qalqalah, memperjelas makhraj (tempat keluarnya) setiap huruf, hamzah washal, hamzah qatha’   dan lain sebagainya.
2. Sebelum pengajar membacakan surat, ia memulai dengan pembicaraan ringan yang menjadikan anak semangat mempelajari surat tersebut dan memahami maknanya.

3. Memperdengarkan bacaan Al Quran pada pendengaran anak dengan bacaan yang khusyu’ lebih dari satu kali.Anak diminta membaca surat itu sepenggal –penggal secara bersama-sama lebih dari satu kali.

4. Sementara itu sang pengajar membenarkan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada anak saat membaca Al Quran.

5. Pengajar menyuruh beberapa anak mengulangi surat yang sudah dibacakan secara bersamaan. Kemudian menyuruh beberapa anak yang lain dan seterusnya.

6. Setelah itu pengajar menyuruh anak satu per satu membaca Al Quran, pengajar menyuruh salah seorang anak untuk membaca Al Quran  setelah ia memberi contoh bacaannya. Kemudian meminta anak lainnya melakukan hal serupa, dan seterusnya.

7. Pengajar hendaknya mendiskusikan makna surat kepada anak  dengan memberikan pertanyaan ringan. Hingga pengajar benar-benar mengetahui bahwa seluruh anak sudah memahami makna surat dengan baik.

8. Pengajar Al-Quran harus menanamkan dalam jiwa anak bahwa mempelajari Al-Quran adalah ibadah. Allah ta’ala memberikan pahala yang sangat besar.

9. Pengajar harus mempunyai target pada pertemuan itu anak harus mengulangi ayat-ayat yang diajarkan dengan membacanya berkali-kali.

10. Harus diperhatikan oleh pengajar yaitu membenarkan bacaan anak supaya jangan sampai salah sedikitpun. Karena yang sedikit itu akan dibawa sampai dewasa jika tidak dibetulkan.

11. Menjadi catatan untuk pengajar bahwa anak difahamkan dengan makna ayat-ayat yang dia pelajari dengan pemahaman sederhana, sesuai tingkatan akalnya.

Dalam mengajar tentu saja pasti ada hambatan-hambatan, maka hendaklah selalu berdo’a kepada Allah supaya diberi kesabaran dan keteguhan niat. Karena terkadang dikarenakan hambatan-hambatan yang ada, seorang pengajar menjadi putus asa.



Sumber : muslimah.or.id