Saturday, March 26, 2016

Wahai Muslim !! Yang Suka Menonton Acara ini, Segera Perbarui Lagi Syahadat Anda!! Ini Sebabnya


Film seri dari India yang waktu ini populer di tv berjudul ‘Uttaran’ patut mendapat perhatian. Pasalnya, banyak pada antara masyarakat Indonesia yg notabene beragama Islam, terpengaruh dengan norma berucap kalimat ‘Bantu Kami dewa’ atau ‘Hanya Dewa yang memahami Akhirnya’, yang dampaknya tentu saja, membahayakan akidah serta keimanan sebagai seseorang muslim.

pada Islam tegas melarang untuk menyembah dan menyeru meminta pertolongan pada selain Allah, Tuhan sekalian alam. Buat itu, apabila anda pernah bahkan tanpa sengaja maupun disengaja, mengucapkan kalimat tadi, hendaklah memperbaharui lagi syahadat.

Cara memperbaharui iman
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperbaharui iman seseorang, diantaranya adalah:.
Pertama , dengan selalu mengucapkan laa ilaaha illallaah. Sebagaimana sabda rasulullah: “Perbaharuilah iman kamu, beliau ditanya: “bagaimana kami memperbaharui iman kami, beliau menjawab: “perbanyaklah mengucapkan kalimat laa Ilaha Illallah. “ (HR. Ahmad )

Silakan bagikan ini lantaran contohnya yg anda lihat pada facebook juga twitter, banyak sekali yang keceplosan ikut-ikutan latah berucap kata-istilah ‘tolong kami Dewa’. Dengan begitu semoga kita terhitung menerima kebajikan yg banyak karena menyelamatkan akidah, setidaknya ikut andil pada berusaha saling ingat-mengingatkan.


Thursday, March 24, 2016

Wow !! Inilah Dialog Ilmiah Seorang Profesor dengan Bung Karno tentang Tuhan

Mungkin ini adalah pertemuan dan dialog sakral yang mencerahkan sekaligus mengagumkan, yang dialami oleh Prof. DR. H. Kadirun Yahya, Msc – seorang angkatan 1945, ahli sufi, ahli fisika dan pernah menjabat sebagai rektor Universitas Panca Budi, Medan – dengan Presiden RI pertama Ir. Soekarno.

Ia bersama rombongan saat itu diterima di beranda Istana Merdeka (sekitar bulan Juli 1965) bersama dengan Prof. Ir. Brojonegoro (alm), Prof. dr. Syarif Thayib, Bapak Suprayogi, Admiral John Lie, Pak Sucipto Besar, Kapolri, Duta Besar Belanda.

“Wah, pagi-pagi begini saya sudah dikepung oleh 3 Profesor-Profesor” kelakar Ir. Soekarno membuka dialog ketika menemui rombongan Prof. Kadirun Yahya beserta rombongan. Kemudian Presiden Soekarno mempersilakan rombongan tamunya untuk duduk.




“Profesor Kadirun Yahya silakan duduk dekat saya”, pinta presiden Soekarno kepada Prof. Kadirun Yahya, terkesan khusus.

“Professor, ik horde van jou al sinds 4 jaar, maar nu pas onmoet ik jou, ik wou je eigenlijk iets vragen (saya dengar tentang engkau sudah sejak 4 tahun, tapi baru sekarang aku ketemu engkau, sebenarnya ada sesuatu yang akan aku tanyakan padamu),” kata presiden Soekarno dengan bahasa Belanda.
“Ya, tentang apa itu Bapak Presiden…?”
“Tentang sesuatu hal yang sudah kira-kira 10 tahun, saya cari-cari jawabannya, tapi belum ketemu jawaban yang memuaskan. Saya sudah bertanya pada semua ulama dan para intelektual yang saya anggap tahu. Tetapi semua jawabannya tetap tidak memuaskan saya.”
“Lantas soalnya apa bapak Presiden?”

“Saya bertanya terlebih dahulu tentang yang lain, sebelum saya majukan pertanyaan yang sebenarnya” jawab Presiden Soekarno.
“Baik Presiden” kata Prof. Kadirun Yahya



“Manakah yang lebih tinggi, Presiden atau Jenderal atau Profesor dibanding dengan sorga?” tanya Presiden. “Sorga” jawab Prof.Kadirun Yahya.

“Accoord (setuju)”, balas Presiden terlihat lega.

Menyusul Presiden bertanya untuk soal berikutnya. “Lantas manakah yang lebih banyak dan lebih lama pengorbanannya antara pangkat-pangkat dunia yang tadi dibanding dengan pangkat sorga?” tanyanya.

“Untuk Presiden, Jenderal, Profesor harus berpuluh-puluh tahun berkorban dan ber-abdi pada Negara, nusa dan bangsa atau pada ilmu pengetahuan. Sedangkan untuk mendapatkan sorga harus berkorban untuk Allah segala-galanya. Berpuluh-puluh tahun terus menerus, bahkan menurut agama Hindu atau Budha harus beribu-ribu kali hidup dan berabdi, baru barangkali dapat masuk Nirwana,” jawab Prof. Kadirun.
“Accoord”, kata Bung Karno (panggilan akrab Presiden).

“Nu heb ik je te pakken Professor (sekarang baru dapat kutangkap engkau Profesor)” lanjut Bung Karno. Tampak mukanya cerah berseri dengan senyumnya yang khas. Dan kelihatannya Bung Karno belum ingin cepat-cepat bertanya untuk yang pokok masalah. “Saya cerita sedikit dulu” kata Bung Karno.
“Silakan Bapak Presiden”.

“Saya telah melihat teman-teman saya meninggal dunia lebih dahulu dari saya, dan hampir semuanya matinya jelek karena banyak dosa rupanya. Sayapun banyak dosa dan saya takut mati jelek. Maka saya selidiki Al-Quran dan Al-Hadits bagaimana caranya supaya dengan mudah hapus dosa saya dan dapat ampunan dan bisa mati tersenyum.”

“Lantas saya ketemu dengan satu Hadits yang bagi saya berharga. Bunyinya kira-kira sebagai berikut : Rasulullah berkata; Seorang wanita penuh dosa berjalan di padang pasir, bertemu dengan seekor anjing dan kehausan. Wanita tadi mengambil gayung yang berisikan air dan memberi minum anjing yang kehausan itu. Rasul lewat dan berkata: Hai para sahabatku. Lihatlah, dengan memberi minum anjing itu, hapus dosa wanita itu dunia dan akhirat. Ia ahli sorga”.

“Nah Profesor, tadi engkau katakan bahwa untuk mendapatkan sorga harus berkorban segala-galanya, berpuluh-puluh tahun untuk Allah baru dapat masuk sorga. Itupun barangkali. Sementara sekarang seorang wanita yang berdosa dengan sedikit saja jasa, itupun pada seekor anjing pula, dihapuskan Tuhan dosanya dan ia ahli sorga. How do you explain it Professor?” Tanya Bung Karno lanjut. Profesor Kadirun Yahya terlihat tidak langsung menjawab. Ia hening sejenak. Lantas berdiri dan meminta kertas.

“Presiden, U zei, det U in 10 jaren’t antwoord niet hebt kunnen vinden, laten we zien (Presiden, tadi bapak katakan dalam 10 tahun tak ketemu jawabannya, coba kita lihat), mudah-mudahan dengan bantuan Allah dalam 2 menit saja saya coba memberikan jawabannya dan memuaskan”, katanya.

Keduanya adalah sama-sama eksakta, Bung Karno adalah seorang insinyur dan Profesor Kadirun Yahya adalah ahli kimia/fisika.

Di atas kertas Prof. Kadirun mulai menuliskan penjelasannya.
10/10 = 1 ;
“Ya” kata Presiden.
10/100 = 1/10 ; “Ya” kata Presiden.
10/1000` = 1/100 ;
“Ya” kata Presiden.
10/10.000 = 1/1000 ;
“Ya” kata Presiden.

10 / ∞ (tak terhingga) = 0 ;
“Ya” kata Presiden.
1000.000 … / ∞ = 0 ;
“Ya” kata Presiden.
(Berapa saja + Apa saja) /∞ = 0;
“Ya” kata Presiden.
Dosa / ∞ = 0 ;
“Ya” kata Presiden. ———————————————–“

Nah…” lanjut Prof,
1 x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden
½ x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden.
1 zarah x ∞ = ∞ ;
“Ya” kata Presiden.
“… ini artinya, sang wanita, walaupun hanya 1 zarah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar.”

“Mengikutsertakan yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakannya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh PAHALA yang Maha Besar itu. 1 zarah x ∞ = ∞ Dan, Dosa / ∞ = 0.
Ziedaar hetantwoord, Presiden (Itulah dia jawabannya Presiden)” jawab Profesor.

Bung Karno diam sejenak . “Geweldig (hebat)” katanya kemudian. Dan Bung Karno terlihat semakin penasaran.

Masih ada lagi pertanyaan yang ia ajukan. “Bagaimana agar dapat hubungan dengan Tuhan?” katanya.

Profesor Kadirun Yahya pun lanjut menjawabnya. “Dengan mendapatkan frekuensi-Nya. Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan.”

“Lihat saja, walaupun 1 mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, tak mungkin ada kontak jika frekuensi-Nya tidak kita dapati”, jelasnya.

“Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya, sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan ?” tanya Presiden kemudian.

“Melalui isi dada Rasulullah” jawab Prof.

“Dalam Hadits Qudsi berbunyi yang artinya : Bahwasanya Al-Quran ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia” (Abi Syuraihil Khuza’ayya.r.a), lanjutnya.

Prof menyambung, “Begitu juga dalam QS.Al-Hijr :29 – Maka setelah Aku sempurnakan dia dan Aku tiupkan di dalamnya sebagian rohKu, rebahkanlah dirimu bersujud kepadaNya”.

“Nur Illahi yang terbit dari Allah sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dengan Rasulullah. Ujung Nur Illahi itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas kita akan dapat frekuensi dari Allah SWT”, kata Prof.

Prof melanjutkan, “Lihat saja sunnatullah, hanya cahaya matahari saja yang satu-satunya sampai pada matahari. Tak ada yang sampai pada matahari melainkan cahayanya sendiri. Juga gas-gas yang saringan-saringannya tak ada yang sampai matahari, walaupun ‘edelgassen’ seperti : Xenon, Crypton, Argon, Helium, Hydrogen dan lain-lain. Semua vacuum!
Yang sampai pada matahari hanya cahayanya karena ia terbit darinya dan tak bercerai siang dan malamnya dengannya. Kalaulah matahari umurnya 1 (satu) juta tahun, maka cahayanyapun akan berumur sejuta tahun pula. Kalau matahari hilang maka cahayanyapun akan hilang. Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya, mataharipun tak dapat dilihat”.

“Namun cahaya matahari, bukanlah matahari – cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari sendiri (Huygens)”, jelas Prof.

Prof menyimpulkan, “Dan Rasulullah adalah satu-satunya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Illahi dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari nur itu yang berada dalam dada Rasulullah harus dihubungi.”

“Bagaimana cara menghubungkannya, sementara Rasulullah sudah wafat sekian lama?” tanya Presiden. “

Prof menjawab, “Memperbanyak sholawat atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi Beliau, yang otomatis mendapat frekuensi Allah SWT.
–Tidak kukabulkan doa seseorang, tanpa shalawat atas Rasul-Ku. Doanya tergantung di awang-awang – (HR. Abu Daud dan An-Nasay).

Jika diterjemahkan secara akademis mungkin kurang lebih : “Tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu mendapat frekuensi Rasul-Ku”.

Sontak Presiden berdiri. “You are wonderful” teriaknya. Sejurus kemudian, dengan merangkul kedua tangan profesor, Presidenpun bermohon : “Profesor, doakan saya supaya dapat mati dengan tersenyum dibelakang hari nanti…

Subhanallah. Semoga Bpk. Proklamator Republik Indonesia ini mendapat tempat yang Layak di sisi Allah SWT. Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Sumber: islamsejati.com

ALLAHUAKBAR! Takjub Dengan Pesona Keindahan Alam, Fotografer Ini Akhirnya Masuk Islam

Saya lahir dari keluarga biasa-biasa saja  di Swedia. Saya menjalani hidup selama 25 tahun tanpa benar-benar berpikir tentang keberadaan Tuhan, karena saya adalah orang materialistik.

ALLAHU AKBAR! Takjub Dengan Pesona Keindahan Alam, Fotografer Ini Akhirnya Masuk Islam


Saat masih SMA, saya ingat betul saat menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah menjadi kutu buku. Dan ketika itu, saya sempat mengambil dan membaca terjemahan Al-Quran dan hingga saya menemukan suatu ayat. Saya tidak ingat persis apa yang saya baca, yang jelas saya menemukan bahwa apa yang dikatakan Al-Quran masuk akal dan logis. Namun, saya sama bukanlah orang yang religius, dan saya juga tidak perlu dewa apapun. Maksud saya, kita memiliki Newton untuk menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja, bukan?

Waktu berlalu dan saya lulus dari sekolah dan mulai bekerja. Saya mendapatkan uang dan pindah ke apartemen. Saya menjadi seorang fotografer amatir dan terdaftar dalam kegiatan fotografi.

Suatu kali, saya mendokumentasikan pasar dan mengambil foto dari jarak jauh dengan lensa tele. Ketika itu seorang imigran tampak marah datang dan menjelaskan bahwa ia ingin memastikan bahwa saya tidak boleh mengambil gambar ibu dan saudara-saudara perempuannya. Saya pikir dasar orang aneh, orang-orang Muslim itu!

Hal yang berkaitan dengan Islam dan lagi-lagi terjadi, saya membaca hampir semua terjemahan Quran dan saya menemukan bahwa semua hal menjadi indah dan logis. Tapi tetap, Allah tidak memiliki tempat di hati saya. Sampai saya bertemu Shahida, ia adalah seorang wanita Amerika yang telah menjadi muallaf, ia juga partner kerja saya hingga akhirnya kami bersahabat.

Shahida menceritakan kisah perjalanan spritualnya menemukan Islam. Shahida dan saya membahas Islam, iman kepada Allah, dan segala sesuatu yang ia ceritakan masuk akal bagi saya. Shahida seperti malaikat yang memiliki kesabaran menghadapi saya, sebab pemikiran lambat dan pertanyaan konyol saya, tapi dia tidak pernah menyerah. Dia mengatakan kepada saya, “Dengarkan saja hati Anda, dan Anda akan menemukan kebenaran.”

Tidak diduga sayapun seperti dengan cepat menemukan kebenaran dalam diri saya. Seperti dalam perjalanan pulang dari kerja, saya naik bus dan kebanyakan orang di sekeliling saya sedang tidur. Saya melihat matahari terbenam, yang melukis awan indah dengan warna pink dan oranye. Pada saat itu, seperti semua keindahan datang secara bersamaan.

Saya mulai mengerti bagaimana Tuhan bisa mengatur hidup kita, meskipun kita bukan robot. Saya melihat hal itu mungkin bisa saja tergantung pada hukum fisika dan kimia, namun saya mulai percaya dan melihat pekerjaan Tuhan. Itu indah.

Suatu pagi saya bangun, pikiran saya jelas seperti lonceng, dan pikiran pertama yang berlari melalui otak saya adalah bagaimana bersyukur kepada Tuhan, bahwa Dia membuat saya bangun untuk hari lain yang penuh peluang. Itu sangat alami, seperti saya telah melakukan hal ini setiap hari dalam hidup saya.

Setelah pengalaman ini, saya tidak bisa lagi menyangkal keberadaan Tuhan. Tapi setelah 25 tahun menyangkal Tuhan, itu tidak mudah untuk mengakui keberadaan-Nya. Tapi alam, keindahan, dan bertemu Shahida adalah hal yang saya syukuri.

Perlahan-lahan, pikiran saya mulai setuju dengan hati saya, dan saya mulai membayangkan diri saya sebagai seorang Muslim. Tapi apa bisa saya benar-benar masuk Islam? Shalat lima kali sehari? Bisakah berhenti makan daging babi? Bisakah aku benar-benar melakukannya? Dan bagaimana dengan keluarga saya dan teman-teman?

Dan liburan musim panas dimulai, dan saya harus memutuskan menjadi seorang Muslim. Namun awal musim panas menjadi sangat dingin. Keesokan paginya, langit begitu cerah, dengan hembusan dingin angin bertiup di luar jendela kamar, rasanya seperti Tuhan telah memutuskan bahwa inilah waktu yang tepat. Saya mandi, mengenakan pakaian bersih, melompat dari mobil, dan melaju selama satu jam pergi ke masjid.

Dengan gemetar, saya mendekati orang-orang di masjid, dan mengutarakan keinginan saya menjadi muslim, dan setelah shalat zuhur, imam dan beberapa saudara menyaksikan saya mengucapkan Shahadat. Dan Islam-pun menjadi bagian penting dari hidup saya. Saya mulai shalat secara teratur dan pergi shalat Jum’at.

Tidak lupa saya memberitahu keluarga dan teman-teman saya tentang keislaman saya ini, dan merekapun semua menerimanya. Tentu saja, mereka tidak dapat memahami semua hal yang saya lakukan, seperti sholat lima kali sehari pada waktu tertentu atau tidak makan daging babi. Mereka berpikir praktik-praktik ini adalah kebiasaan asing aneh yang akan mati dengan waktu, tapi saya akan membuktikan bahwa mereka salah. Insya Allah.

Sumber: KabarMakkah.com

MasyaAllah !! Bimbim ‘SLANK’ Temukan Jawaban Hidup setelah Injakan Kaki di MAKKAH

Ada pengalaman berharga yang dirasakan seorang muslim ketika pergi ke tanah suci. Bimbim “Slank” misalnya, mengaku menyesal karena baru kali ini menginjakkan kaki di Mekah.

“Sangat indah. Menyesal banget kenapa baru sekarang ke sana. Seperti pulang kampung, jadi kepengin balik lagi,” ujarnya saat ditemui Markas Slank, di Gang Potlot, Pancoran beberapa waktu lalu.

Bimbim ‘SLANK’ Temukan Jawaban Hidup setelah Injakan Kaki di MEKAH


“Pokoknya, selama masih muda dan mampu, jangan tunda-tunda pergi ke sana,” lanjut dia.

Bimbim dan Kaka memang baru saja pulang dari ibadah umrah. Saat menjalankan ibadah di Tanah Suci, Bimbim mengaku banyak mendapatkan makna dari ibadahnya.

“Sekarang jadi semakin tahu mana yang halal dan mana yang haram. Waktu masih muda kita masih mencari jawaban hidup, sekarang alhamdulillah sudah ketemu jawabannya,” jelasnya.

Bimbim pun kembali mengingat perjalanan para personel Slank dari dulu hingga saat ini. Menurut bapak dua anak ini, pengalaman tersebut berhasil mengantarkan Slank pada perjalanan rohani.

“Hati manusia pada akhirnya akan berjalan ke arah Tuhan. Tapi prosesnya enggak ada yang tahu. Kecepatannya beda-beda, ada yang jatuh bangunnya lama, ada yang singkat. Slank sendiri cukup berat, tapi kita menjalankannya dengan fun dan bismillah,” tambahnya.

Di tanah suci, tak lupa Bimbim dan para personil Slank lainnya meminta kesembuhan untuk Abdee. “Itu pasti (mendoakan Abdee),” pungkasnya.

Sumber: islamsejati.com

Tuesday, March 22, 2016

Ini Jawaban Kemenkes Mengenai Vaksin Polio Mengandung Babi

Ini Jawaban Kemenkes Mengenai Vaksin Polio Mengandung Babi
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio berlangsung mulai tanggal 8 hingga 15 Maret 2016. Hingga hari ini, masih ada yang mempersoalkan PIN tersebut, khususnya terkait bahan vaksin polio yang digunakan.


Ini Jawaban Kemenkes Mengenai Vaksin Polio Mengandung Babi


Hal itu bermula dari informasi yang tersebar di media sosial disertai gambar bungkus vaksin bertuliskan “pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi.”

Benarkah vaksin polio mengandung babi?

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa vaksin polio yang digunakan pada PIN 2016 tidak menggunakan bahan bersumber dari babi.
“Bungkus vaksin polio yang beredar di medsos dengan tulisan “pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi” adalah vaksin polio suntik. Sedangkan yang digunakan pada Pekan Imunisasi Nasional 2016 adalah Vaksin Tetes,” kata Kepala Biro Komunikasi & Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI, Oscar Primadi, seperti dikutip Liputan6.

Lebih lanjut, dalam klarifikasinya Oscar menambahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi mendukung program imunisasi di Indonesia, termasuk PIN Polio 2016 sebagaimana tercantum dalam fatwa MUI Nomer 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi yang ditetapkan pada 23 Januari 2016.

Sumber: Tarbiyah.net

Silahkan di baca !! Ternyata Orang Meninggal Mendengar Saat Diziarahi, Ini Haditsnya!

Silahkan di baca !! Ternyata Orang Meninggal Mendengar Saat Diziarahi, Ini Haditsnya!
Rasulullah SAW dikutip dari Ash-Shahihain memerintahkan untuk mengumpulkan korban perang Badar dari kalangan kafir Quraisy. Rasulullah pun mengumpulkan dan menguburnya ke dalam sebuah lubang bekas sumur. Muhammad kemudian berdiri sambil mendekat. Dia memanggil nama mereka satu per satu.



“Hai Fulan bin Fulan, hai Fulan bin Fulan, apakah kalian mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kalian adalah benar? Sesungguhnya aku mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kalian kepadaku adalah benar”.

Ketika itu, Umar bin Khattab menghampiri Rasulullah seraya bertanya. “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin engkau berbicara dengan orang-orang yang sudah menjadi bangkai?” Dia menjawab, “Demi yang mengutusku dengan kebenaran, mereka lebih mampu mendengar apa yang kukatakan daripada kalian, hanya saja mereka tidak mampu menjawabnya.”

Rasulullah mensyariatkan kepada umatnya untuk mengucapkan salam kepada ahli kubur. Layaknya salam yang akan diucapkan mereka kepada lawan bicara. Begini kalimatnya, “Salam sejahtera atas kalian, tempat tinggal orang Mukmin.”Ucapan semacam ini layak disampaikan kepada orang yang dapat mendengar dan memikirkannya. Jika tidak, maka ucapan semacam ini hanya ditujukan kepada orang yang tidak ada di tempat atau benda mati.


Orang-orang salaf telah menyepakati hal ini. Banyak juga atsar yang diriwayatkan dari mereka bahwa orang yang sudah meninggal dunia dapat mengetahui ziarah orang yang hidup atas kuburnya. Dia pun merasa gembira karena sudah ada yang menziarahi.

Diriwayatkan dari Siti Aisyah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang menziarahi kubur saudaranya lalu duduk di sisinya melainkan ia senang atas kedatangannya hingga dia bangkit.

Riwayat shahih lainnya datang dari Amr bin Dinar. Tidak ada orang yang meninggal dunia melainkan dia mengetahui apa yang terjadi di tengah keluarganya setelah itu. Saat mereka memandikan dan mengafaninya, dia (jenazah) dapat melihat mereka.
Sumber : Roh/Ibnu Qayyim Aljauziyah : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/16/02/24/o31arz394-apakah-orang-meninggal-tahu-saat-diziarahi

Masya Allah... Para Wanita Di Gerbong KRL Ini Rata-Rata Membaca Al-Quran

Ada pemandangan yang tidak lazim di kereta rel listrik (KRL) rute Parung Panjang-Tanah Abang, Lantunan merdu ayat Alquran terdengar sayup-sayup di salah satu gerbong kereta tersebut. Suaranya seakan sahut-menyahut. Kadang lantunan itu jelas, kadang seakan hilang karena kalah dengan kerasnya decit bunyi rem kereta. Suara-suara merdu Alquran itu dilantunkan puluhan remaja perempuan yang memenuhi bangku di gerbong ketiga.


Masya Allah... Para Wanita Di Gerbong KRL Ini Rata-Rata Membaca Al-Quran


Karena kebetulan penumpang tak terlalu berjubel, mereka tampak rapi duduk memenuhi bangku di sisi kanan dan kiri. Tangan sekitar 80-an perempuan berhijab itu tampak memegang erat Alquran kecil karena KRL sering bergoyang-goyang. Kendati begitu, mereka tampak khusyuk mendaras Alquran meski penumpang juga keluar masuk ketika KRL berhenti tiap stasiun.

Puluhan pendaras dadakan ini merupakan santri-santri putri Pesantren Terpadu Darul Quran Mulia Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keberadaannya di KRL di siang nan terik itu bukan untuk promosi KRL ataupun kegiatan pesantren. Layaknya penumpang lain, mereka tengah bepergian. ”Kami naik dari Serpong mau ke Bekasi, silaturahmi ke salah satu teman sekaligus khataman,” ujar Jihan Afifah, 15, salah satu santri.

Kehadiran Afifah dan puluhan teman-temannya tak ayal menyulap gerbong KRL seakan menjadi pesantren dadakan. Suasana gerbong ramai dengan para penumpang, tapi bukan penumpang biasa, melainkan yang tengah mengaji dan sebagian lagi menghafal Alquran. Soal mengaji di KRL, Afifah mengaku sama sekali tak diperintah oleh pimpinan ponpes.

Sebagai santri ponpes penghafal Alquran, menurut remaja asal Tanah Abang, Jakarta Pusat ini, Alquran adalah kitab suci yang tak bisa dilepaskan dari aktivitas hariannya. Lebih-lebih di bulan yang penuh berkah dan limpahan pahala ini, menurut dia, para santri berlomba mendaras sebanyakbanyaknya. ”Alhamdulillah puasa ini sudah khatam satu kali,” ujar remaja yang belum lama ini khatam menghafal 30 juz Alquran tersebut.

Atiqah, 15, santri lainnya juga mengaku sudah hafal Alquran setelah tiga tahun mondok di Darul Quran Mulia. Seusai kelulusan, Atiqah dan santri lain kini diberi kebebasan sejenak memegang ponsel. Di sela mengaji di KRL, mereka juga sesekali membuka-buka ponsel untuk chatting, mendengarkan musik lewat headshet atau sekadar bermain.

Meski pemandangan tak biasa, kehadiran puluhan santri ini justru mendapat sambutan baik sejumlah penumpang lain. Mereka tampak tak terganggu. Bahkan mereka menilai hal ini bisa jadi inspirasi agar penumpang terbiasa memanfaatkan waktu luang, lebih-lebih saat Ramadan. ”Jujur salut, perlu dibudayakan di luar Ramadan,” ujar Ramli, salah satu penumpang asal Ciputat, Tangerang Selatan.

Di Bulan Suci dan di tengah kesibukan yang tinggi, banyak warga Jakarta memang terpaksa menjalankan ritualritual ibadah sunah di ruang publik. Mereka tetap berupaya mencari keberkahan Ramadan ini tanpa mengurangi intensitas pekerjaannya. Basori, PNS yang berkantor di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat mengaku tiap di KRL sebisa mungkin dia menyempatkan untuk mendaras Alquran.

Tak harus menenteng kitab suci, mendaras kini lebih praktis seperti lewat smartphone. Dengan cara ini, dia berupaya bersikap adil (ta’ adul ) dalam membagi waktu antara bekerja dan beribadah. Banyaknya keutamaan dan keberkahan di bulan Ramadan membuat orang tak ingin melewatkan begitu saja.

Umumnya mereka merasakan keteduhan yang sangat berbeda saat menjalankan ibadah ketimbang hari biasa. Bahkan Ramadan justru terasa lebih merekatkan persaudaraan antarsesama. ”Saya pernah saat berbuka di KRL, tanpa dikomando penumpang saling berbagi takjil. Ini keren dan membuat trenyuh,” tutur Mubarak, warga Depok.

Mengaji, saling menghargai sesama (tasamuh ), dan berbagi inilah potret kecil tradisi pesantren yang tak terasa telah dilakukan sebagian orangorang Jakarta kala di ruang publik. Di tengah tekanan hidup ibu kota yang kian ketat, nilai-nilai spiritualitas, kesederhanaan dan kebersahajaan itu menjelma meski baru sebatas kala Ramadan. [Sumber: koran-sindo.com]