Friday, May 6, 2016

Sedih Banget !! : Kenapa Istriku Tidak Pernah Sempat Berdandan Untukku Padahal Ia Di Rumah Seharian?

Pada suatu hari, seorang suami datang mengunjungi ibunya sendirian tanpa anak istrinya. Rupanya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya mengenai istrinya sehingga ia merasa harus meminta pendapat ibunya.’






Anak : Assalamu ‘alaikum…

Ibu : Wa’alaikumussalam.. Lho nak kok tumben pulang gak bilang-bilang, mana istrimu??

Anak : Istri di rumah bu, Saya gak bilang ke istri kalau mau ke sini. Hehehe…

Ibu : Lho kenapa? ya gak boleh lho kyak gitu..??

Anak : Bu saya mau tanya, se sibuk itukah jadi ibu rumah tangga??

Ibu : Kenapa nak?? Kamu ada masalah sama istrimu??

Anak : Ya saya bingung aja bu, rumah gak pernah beres, tiap malam mengeluh capek sedangkan saya yang kerja tiap hari aja biasa aja, yang aneh lagi bu kenapa istri saya tidak pernah berdandan. padahal itu kan wajib, istri harus terlihat cantik di depan suami. Saya liat ibu kok biasa aja gak pernah sesibuk istri saya.

Ibu : Nak, dengar ibu baik-baik. Pekerjaan ibu rumah tangga memang tidak banyak hanya berkutat pada membersihkan rumah, memasak dan menggurus anak. Tapi ketahuilah, pekerjaan itu sungguh menguras tenaga dan pikiran. Coba liat mana pernah istrimu mengerjakan suatu pekerjaan sampai selesai? Yang istrimu lakukan pasti mengerjakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu, Karena apabila tidak seperti itu, maka tidak akan selesai-selesai.

Anak : Tetapi bu, kenapa rumah jarang sekali rapi?

Ibu : Karena istrimu lebih memprioritaskan anakmu dari pada segalanya. Sedangkan pekerjaan mengurus anak memang sangat menyenangkan tetapi membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang ekstra agar anakmu tidak jatuh, tidak nangis dan mendapatkan perhatian yang cukup dari ibunya jadi pantas lah kalau tiap hari istrimu mengeluh capek. Tetapi sesungguhnya hanya di bibir saja dia mengeluh capek karena sebetulnya dia hanya memancingmu untuk meminta sedikit perhatianmu di waktu senggangnya ketika buah hati kalian telah tertidur pulas…

Anak : Tetapi bu, tidak sempatkah dia merawat dirinya sebentar saja. Dulu saja sering sekali yang luluran lah, yang facial lah, yang SPA laah..

Ibu : Hahahaha… Anakku anakku… Sejatinya seorang wanita itu sangat suka dimanja. Tidak ada wanita manapun yang menolak untuk facial, luluran, apalagi SPA. Tapi kembali lagi, ketika istrimu baru saja membuka perlengkapan tempurnya yaitu kosmetik, tiba-tiba terdengar anakmu menangis dan akhirnya tidak jadi lah dia merawat diri. Jangankan luluran, bagi seorang ibu rumah tangga yang punya anak kecil guyuran air mandi saja sudah menjadi obat bagi capek yang dia rasakan.

Jadi, jangan sekali-kali kau banding-bandingkan istrimu dengan teman kerjamu atau wanita lain yang terlihat begitu cantik dengan polesannya. Dia sudah berkorban merelakan waktu yang paling dia senangi untuk mengurus anakmu dan kamu sebagai suaminya. Kamu melihat ibu biasa saja karena memang anak ibu sudah besar-besar. Begitu juga dengan istrimu nanti ketika anak kalian sudah besar, istrimu akan lebih memperhatikan dirinya dan merawat diri lagi.

INGAT ya nak pesan ibu ini, bersabarlah…. Jangan sampai kau tergoda dengan perempuan lain hanya karena istrimu tidak berdandan… Sayangi istrimu luangkan sedikit waktu untuk mengusir kelelahannya dan kepenatannya yaitu dengan memanjakannya. Wajar istrimu mengeluh karena ingin mendapatkan perhatian, pengertian dan kasih sayangmu.

Renungkanlah para suami, masihkah menganggap bahwa istrimu buang-buang waktu di rumah? Masihkah menganggap bahwa ia malas berdandan untuk menyenangkanmu?

Renungkanlah, rumah tangga adalah kerjasama dari kedua belah pihak, kerjasama untuk membangun keluarga yang kokoh dengan anak-anak sholeh dan sholeha, juga kerjasama untuk saling membahagiakan satu sama lain. Subhanallah.


Sumber dailymoeslim

Tuesday, April 26, 2016

Nangis Bacanya !! Demi Ridha Orang Tua, Aku Rela Menikah Dengannya

Menjadi anak kesembilan dari 14 bersaudara adalah anugerah yang terindah dari Sang Penyayang. Namun di saat usiaku menjelang 20 tahun, keputusan besar yang akan kuambil membalikkan kehidupanku.







Aku terlahir dari keluarga yang cukup mampu di desaku. Bahkan bundaku menyediakan seorang asisten rumah tangga untuk setiap anaknya. Ayah bundaku seorang pedagang yang cukup sukses saat itu.

Namun Allah SWT memberi ujian yang cukup berat. Di saat aku ingin meneruskan sekolahku, tepat setelah lulus SMEA ternyata ayahku mengalami kebangkrutan. Satu per satu sawah yang dimiliki ayahku habis terjual untuk membiayai keluarga kami.



Untuk meringankan beban hidup keluarga, maka ayah memberi pilihan kepadaku untuk mengakhiri masa lajangku. Aku berusaha taat pada perintah orang tuaku, aku tak ingin membuat ayah sedih dan berusaha meringankan beban beliau. Maka aku bersedia untuk menikah.

Kali ini yang agak berat adalah calon suamiku adalah pilihan ayahku, sementara aku sudah punya pilihan teman dekat saat itu. Karena sekali lagi aku tidak ingin mengecewakan ayahku, maka aku terima perjodohan ini dengan niat beribadah. Birrul walidain.

Dua insan manusia bertemu dengan latar belakang yang sangat berbeda bagai langit dan sumur. Calon suamiku berselisih sepuluh tahun dari aku, berasal dari keluarga yang tidak mampu, bahkan kalau boleh dikatakan sangat tidak mampu.

Ketika semua kelima kakakku dikumpulkan oleh ayahku, untuk dimintai masukan terkait dengan perjodohanku, maka salah satu kakak lelaki memberi alasan mengapa dia setuju.

“Ayah. Saya sebagai kakak sangat setuju jika adik Ami ini menikah dengan Amir pilihan ayah. Dahulu sekali ketika Amir masih usia 13 tahun pernah melakukan sesuatu yang menurut saya, dia adalah seorang yang sangat bertanggung jawab dan jujur. Saat itu Amir sedang bermain bola bersama teman-temannya di halaman rumah kami. Tiba-tiba karena tendangan bolanya maka salah satu kaca jendela kami pecah”

“Sementara anak-anak yang lain berlari ketakutan, Amir justru mendekat, menemui kami pemilik rumah itu dan meminta maaf bahkan sanggup mengganti kaca itu dengan jangka waktu tertentu karena keterbatasan finansial”

Maka akhirnya aku menikah dengan pilihan ayahku atas persetujuan kakak-kakakku.

Ketika aku harus mengikuti suami pindah ke kota lain dan mendiami rumah yang telah dibeli suami saat sebelum kami menikah, aku cukup kaget, sekaligus sedih. Rumah ini berlantai tanah dan berdinding anyaman bambu. Benar-benar berbeda 180 derajat dengan rumah ayahku yang luas serta berhias dinding ukiran jati.

Hampir saja aku memutuskan untuk pulang saja ke rumah orang tuaku, andai saja pesan ayahku tidak kuperhatikan.

“Kelak kalau kamu menikah maka taatilah perintah suamimu, ikuti semua keinginannya walau harus bertempat tinggal di lubang rumah semut”

Ayah aku ingin taat kepadamu; dulu, kini dan sampai ajal memisahkan kita. [DwiKap, menjelang 50 tahun pernikahan bapak ibuku tercinta]


Sumber webmuslimah.com

TANYA USTADZ !! Sudah Talak 2 Kali, Istri Minta Cerai Lalu Minta Rujuk. Bolehkah?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ustadz, empat tahun lalu hubungan saya dengan istri memburuk setelah saya kena PHK. Karena sering terjadi pertengkaran, akhirnya saya ceraikan istri saya. Setelah itu kami rujuk dan alhamdulillah saya sudah bekerja kembali. Beberapa lama berumah tangga, masalah kembali terjadi. Jatuhlah talak saya yang kedua.





Terakhir, beberapa waktu yang lalu, kami kembali terjerat masalah. Lalu istri saya minta cerai, sebenarnya saya berat. Tapi karena dia memaksa akhirnya aku menurutinya. Namun beberapa pekan berpisah, istri saya minta agar kami kembali bersatu. Saya sendiri sebenarnya juga masih mencintainya.



Apakah masih boleh Ustadz? Karena saya pernah mendengar jika talak tiga tidak bisa dinikahi lagi hingga menikah dengan orang lain dan berhubungan dengan suami baru itu.

Jawaban

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Karena yang terakhir itu atas permintaan istri, bukan keinginan suami, maka ia adalah khulu’ bukan talak. Sehingga dari cerita Anda, Anda melakukan talak dua kali dan yang terakhir itu adalah khulu’. Bukan talak ketiga.

Karena itu khulu’ dan bukan talak ketiga, setelah masa iddah satu kali haid, Anda berdua bisa menikah kembali. Tentu dengan adanya wali, dua saksi, ijab qabul sebagaimana nikah pada umumnya.

Nah perlu menjadi perhatian, jangan sampai jatuh talak ketiga. Karena kalau sampai talak tiga, suami istri tidak bisa menikah (bersatu) kembali sebelum mantan istri tersebut menikah dengan orang lain dan berhubungan dengan suami yang baru tersebut.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ

“Jika dia mentalak istrinya (talak tiga) maka tidak halal baginya setelah itu, sampai dia menikah dengan lelaki yang lain…” (Q.S. Al-Baqarah:230)

Sumber webmuslimah.com

Friday, April 22, 2016

Pahala Besar bagi Istri yang Lakukan 4 Hal Ini untuk Suaminya di Malam Jumat

Perindu surga   -    Seorang istri bisa panen pahala di malam Jum’at. Bahkan, dengan aktifitas penuh suka bersama suaminya.






Apa saja aktifitas itu? Ini 4 di antaranya:

1. Mengajak suami baca surat Al Kahfi

Membaca surat Al Kahfi merupakan amalan sunnah di malam Jumat. Bisa pula dikerjakan di siang hari Jumat.

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ



“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, maka akan dipancarkan cahaya untuknya antara dirinya hingga baitul Atiq” (HR. Al-Hakim, Al-Baihaqi dan Ad-Darimi; shahih)

Dalam hadits yang lain diterangkan bahwa keutamaan membaca surat Al Kahfi di hari Jumat bertahan hingga satu pekan.

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barangsiapa membaca Surat Al Kahfi pada hari Jumat, maka dia diterangi oleh cahaya antara dua Jumat” (HR. An Nasa’i, Baihaqi dan Al Hakim; shahih)

Jika seorang istri mengajak suaminya membaca surat Al Kahfi, maka pahala dan keutamannya semakin berlipat.