Monday, April 25, 2016

MENGHARUKAN !! Kisah Bripda Putri, Polwan yang Hidup Sederhana dan Tinggal di Rumah Reyot

Semangat hidup dan pantang menyerah membuat kehidupan seorang polisi wanita (Polwan) bernama Putri Tanti Rahayu (20), patut dijadikan teladan.
Polwan berpangkat Bripda ini, menjadi cermin bahwa pangkat maupun profesi tidak dinilai dengan materi.


Siang itu, terik matahari menyengat tubuh sejumlah polisi yang bertandang ke sebuah rumah berdinding gedek (anyaman bambu) dan masih berlantai tanah di Dusun Dilem RT 12 RW 3, Desa Kebonrejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.

Rumah sederhana itu ternyata milik keluarga Bripda Putri yang sehari-hari bekerja di staf bagian perencanaan Polres Magelang.

Putri, panggilan akrab polwan tersebut, hidup dengan sederhana dan kurang layak dibandingkan dengan rekan-rekan seprofesinya.

Ayah Putri, Tobi’i (48) bekerja sebagai buruh batu bata dengan penghasilan tidak menentu. Sementara, ibunya, Mulyanti (45), bekerja sebagai buruh pabrik di Kabupaten Semarang.

Dengan latar belakang kehidupan yang serba sulit itu, Putri mampu menembus ketatnya persaingan masuk menjadi anggota Korps Bhayangkara ini.

Tentu saja, ada rasa takut, minder dan juga cemas akan biaya tinggi di awalnya.

“Saya tidak menyangka, jika diterima sebagai polisi. Saat itu, meski dalam kondisi serba kekurangan, ibu saya terus mendorong agar saya bisa terus semangat ikut tes masuk menjadi polwan,” kenang Putri kepada Tribun Jogja, Rabu (20/4).

Alumni Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Satyapratama Salaman ini, awalnya hanya bercita-cita sebagai buruh pabrik di PT Sanyo, Cimanggis.

Dia juga memiliki tekad, saat merantau di luar Jawa Tengah, bisa sembari meneruskan kuliah.

Kakak sulung dari Dea Tanti Safitri (15), Aqsal Adi Wasiqo (13), Udini Istantina (11) ini, akhirnya memperoleh kabar tentang pembukaan polwan.

Dia pun mengubur dalam-dalam impiannya untuk bekerja langsung sembari kuliah.
Meskipun, dia juga takut pada polisi saat itu.

“Saat itu, ada pendaftaran terus mencoba mendaftar online tapi susah satu minggu baru masuk, terus mendapat regristrasi terakhir dari Polres," ujarnya.

Setelah itu, habis ditimbang berat badan dan tinggi badannya, Putri hanya bawa fotokopi Kartu Keluarga, KTP, Ijazah, dan KTP orang tua.

Sementara, persyaratan lain belum dilengkapi. Meski demikian, kala itu, Putri diberi kesempatan untuk melanjutkan sembari melengkapi berkas yang belum dibawanya.

Rumah Ambruk

Saat Registrasi Administrasi (Regmin) awal di minggu pertama, Putri sempat minder, karena bertemu sesama pendaftar ternyata persyaratan mereka sudah lengkap.

Motivasinya pun luntur saat mengetahui masih banyak persyaratan yang belum dilengkapi.
Putri pun hampir mengambil keputusan agar tidak melanjutkan tes menjadi Polwan. Saat itu, dia mengingat pada tanggal 21 April 2014, hujan abu ringan mengguyur wilayah Kabupaten Magelang.

“Tiba-tiba, tanpa angin dan hujan, rumah yang kami tempati selama sekian tahun ambruk. Wah, saat itu sudah hampir tidak melanjutkan. Tetapi, setelah sampai rumah ditelepon oleh kepolisian untuk kembali ke Polres. Saya ditunggu sampai pukul 14.30 untuk serahkan kelengkapan berkas, kalau tidak jadi (mendaftar) harus buat pernyataan di atas materai Rp6.000," tuturnya.

Putri akhirnya memutuskan untuk tetap melanjutkan tes menjadi Polwan. Dia pun akhirnya lolos Regmin dan menjalani pemeriksaan Kesehatan awal di gedung Bayangkara Polda Jateng.
Kala itu, setiap hari Putri menginap di Ambarawa di tempat kos ibunya hingga lolos tes.

Namun, Putri sempat khawatir saat akan menjalani tes renang. Dia mengaku kurang mahir berenang dan sudah lupa dengan gaya-gaya berenang karena sudah sangat jarang dipraktekkan.
Lagi-lagi, ibunya memotivasinya agar dia tetap menjalani tes sampai akhir.

“Anehnya, saya bisa berenang dengan gaya punggung dan banyak teman saya yang tenggelam, “ tutur Putri yang sempat bersaing dengan 14.700 pendaftar.

Akhirnya, dia lolos tes dan diterima menjadi Polwan. Putri benar-benar tidak menyangka jika dirinya bisa lolos. Apalagi, dia tidak ditarik uang sepeserpun untuk lolos tes dan sebagainya.
Padahal, sebelumnya, dia memiliki pandangan jika seseorang yang lolos tes polisi harus memiliki banyak uang.

“Saya akhirnya mengingat benar nasehat orang tua. Saya benar-benar tak menyangka bisa menjadi seorang polisi dan tanpa harus membayar uang untuk bisa lolos,” katanya.
Pandai

Putri pun tergolong sebagai seorang yang pandai, dia sempat meraih nilai 100 di dalam Ujian Nasional (UN) Matematika dan mendapatkan beasiswa dari Pemkab Magelang.

Saat ini, dia bisa membantu untuk kehidupan dan sekolah tiga adiknya, serta bisa membiayai kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) jurusan Hukum.

Tobi’i, ayah Putri mengaku bangga dengan apa yang diraih putrinya ini. Dia juga berharap agar Putri bisa menjalani profesinya dengan jujur, tanggung jawab dan disiplin.

Bahkan, dia juga tidak menyangka anak buruh batu bata dengan upah Rp 35 hingga 40 ribu per hari itu bisa menjadi aparat.

“Saya hanya doa dan puasa agar anak saya bisa berhasil. Menjunjung derajat orangtuanya dan bisa bekerja dengan tekun,” ujarnya.

Kapolres Magelang, AKBP Zain Dwi Nugroho, menjelaskan, Bripda Putri merupakan salah satu anggota yang mempunyai komitmen dan integritas yang tinggi sehingga bisa dicontoh bagi anggota lain dan masyarakat umum.

Hal ini juga membuktikan bahwa penerimaan anggota polisi juga bersih, transparan dan akuntabel.

“Ini juga merupakan teladan dan inspirasi bagi banyak orang. Menjadi polisi itu bukan karena biaya dan uang banyak. Tapi, semangat dan kapasitas orang itu juga bagus,” katanya.

Kepolisian tengah mencarikan cara supaya Putri bisa tinggal di rumah yang layak huni dan di atas tanahnya sendiri.
Hal ini karena tanah tempat tinggal anggotanya itu, bukan milik sendiri.


sumber : sumsel.tribunnews.com

Thursday, March 24, 2016

ALLAHUAKBAR! Takjub Dengan Pesona Keindahan Alam, Fotografer Ini Akhirnya Masuk Islam

Saya lahir dari keluarga biasa-biasa saja  di Swedia. Saya menjalani hidup selama 25 tahun tanpa benar-benar berpikir tentang keberadaan Tuhan, karena saya adalah orang materialistik.

ALLAHU AKBAR! Takjub Dengan Pesona Keindahan Alam, Fotografer Ini Akhirnya Masuk Islam


Saat masih SMA, saya ingat betul saat menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah menjadi kutu buku. Dan ketika itu, saya sempat mengambil dan membaca terjemahan Al-Quran dan hingga saya menemukan suatu ayat. Saya tidak ingat persis apa yang saya baca, yang jelas saya menemukan bahwa apa yang dikatakan Al-Quran masuk akal dan logis. Namun, saya sama bukanlah orang yang religius, dan saya juga tidak perlu dewa apapun. Maksud saya, kita memiliki Newton untuk menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja, bukan?

Waktu berlalu dan saya lulus dari sekolah dan mulai bekerja. Saya mendapatkan uang dan pindah ke apartemen. Saya menjadi seorang fotografer amatir dan terdaftar dalam kegiatan fotografi.

Suatu kali, saya mendokumentasikan pasar dan mengambil foto dari jarak jauh dengan lensa tele. Ketika itu seorang imigran tampak marah datang dan menjelaskan bahwa ia ingin memastikan bahwa saya tidak boleh mengambil gambar ibu dan saudara-saudara perempuannya. Saya pikir dasar orang aneh, orang-orang Muslim itu!

Hal yang berkaitan dengan Islam dan lagi-lagi terjadi, saya membaca hampir semua terjemahan Quran dan saya menemukan bahwa semua hal menjadi indah dan logis. Tapi tetap, Allah tidak memiliki tempat di hati saya. Sampai saya bertemu Shahida, ia adalah seorang wanita Amerika yang telah menjadi muallaf, ia juga partner kerja saya hingga akhirnya kami bersahabat.

Shahida menceritakan kisah perjalanan spritualnya menemukan Islam. Shahida dan saya membahas Islam, iman kepada Allah, dan segala sesuatu yang ia ceritakan masuk akal bagi saya. Shahida seperti malaikat yang memiliki kesabaran menghadapi saya, sebab pemikiran lambat dan pertanyaan konyol saya, tapi dia tidak pernah menyerah. Dia mengatakan kepada saya, “Dengarkan saja hati Anda, dan Anda akan menemukan kebenaran.”

Tidak diduga sayapun seperti dengan cepat menemukan kebenaran dalam diri saya. Seperti dalam perjalanan pulang dari kerja, saya naik bus dan kebanyakan orang di sekeliling saya sedang tidur. Saya melihat matahari terbenam, yang melukis awan indah dengan warna pink dan oranye. Pada saat itu, seperti semua keindahan datang secara bersamaan.

Saya mulai mengerti bagaimana Tuhan bisa mengatur hidup kita, meskipun kita bukan robot. Saya melihat hal itu mungkin bisa saja tergantung pada hukum fisika dan kimia, namun saya mulai percaya dan melihat pekerjaan Tuhan. Itu indah.

Suatu pagi saya bangun, pikiran saya jelas seperti lonceng, dan pikiran pertama yang berlari melalui otak saya adalah bagaimana bersyukur kepada Tuhan, bahwa Dia membuat saya bangun untuk hari lain yang penuh peluang. Itu sangat alami, seperti saya telah melakukan hal ini setiap hari dalam hidup saya.

Setelah pengalaman ini, saya tidak bisa lagi menyangkal keberadaan Tuhan. Tapi setelah 25 tahun menyangkal Tuhan, itu tidak mudah untuk mengakui keberadaan-Nya. Tapi alam, keindahan, dan bertemu Shahida adalah hal yang saya syukuri.

Perlahan-lahan, pikiran saya mulai setuju dengan hati saya, dan saya mulai membayangkan diri saya sebagai seorang Muslim. Tapi apa bisa saya benar-benar masuk Islam? Shalat lima kali sehari? Bisakah berhenti makan daging babi? Bisakah aku benar-benar melakukannya? Dan bagaimana dengan keluarga saya dan teman-teman?

Dan liburan musim panas dimulai, dan saya harus memutuskan menjadi seorang Muslim. Namun awal musim panas menjadi sangat dingin. Keesokan paginya, langit begitu cerah, dengan hembusan dingin angin bertiup di luar jendela kamar, rasanya seperti Tuhan telah memutuskan bahwa inilah waktu yang tepat. Saya mandi, mengenakan pakaian bersih, melompat dari mobil, dan melaju selama satu jam pergi ke masjid.

Dengan gemetar, saya mendekati orang-orang di masjid, dan mengutarakan keinginan saya menjadi muslim, dan setelah shalat zuhur, imam dan beberapa saudara menyaksikan saya mengucapkan Shahadat. Dan Islam-pun menjadi bagian penting dari hidup saya. Saya mulai shalat secara teratur dan pergi shalat Jum’at.

Tidak lupa saya memberitahu keluarga dan teman-teman saya tentang keislaman saya ini, dan merekapun semua menerimanya. Tentu saja, mereka tidak dapat memahami semua hal yang saya lakukan, seperti sholat lima kali sehari pada waktu tertentu atau tidak makan daging babi. Mereka berpikir praktik-praktik ini adalah kebiasaan asing aneh yang akan mati dengan waktu, tapi saya akan membuktikan bahwa mereka salah. Insya Allah.

Sumber: KabarMakkah.com

Tuesday, March 22, 2016

Masya Allah !! Jujur, Pria Ini Kembalikan Uang Rp 100 Triliun yang Nyasar di Rekeningnya

Tomedy, warga Pangkalan Kerinci, mendapati hal mengejutkan di rekeningnya. Rekening yang aslinya berisi uang tidak banyak itu, tiba-tiba tertera saldo Rp 1 miliar. Ketika dicek lagi beberapa waktu kemudian, saldonya bertambah fantastis menjadi Rp 100 triliun.

Mulanya, pria berusia 32 tahun itu menyetorkan uang sejumlah Rp 250 ribu ke rekeningnya, Selasa (8/3/2016) lalu. Setelah mendatangi kantor Bank Mandiri di Jalan Lintas Timur (Jalintim), ternyata antriannya cukup panjang. Tomedy pun mengurungkan niatnya dan memasukkan uang tersebut ke mesin ATM dengan layanan setoran tunai.




Tomedy tidak begitu memperhatikan kertas resi penyetoran itu. Namun sesampainya di rumah, wartawan surat kabar mingguan itu terkejut. Saldo rekeningnya meledak menjadi Rp 999.964.882,-. Padahal aslinya hanya sekitar Rp 500 ribu.


Belum percaya dengan angka itu, Tomedy kemudian mengecek saldo melalui layanan SMS Banking. Ia semakin terkejut karena saldonya mencapai Rp 99.999.999.648.821,-. Hampir Rp 100 triliun.

Tomedy kemudian kembali ke kantor Bank Mandiri meski jam pelayanan hampir ditutup. Customer service (CS) yang didatangi Tomedy juga heran. Setelah melaporkan kepada pimpinannya, akhirnya rekening itu diblokir dan Tomedy diminta menunggu informasi selanjutnya.

"Katanya baru kali ini terjadi seperti itu. Mereka juga tidak tau bagaimana itu bisa terjadi dan dari mana asal uangnya. Sementara saya diminta menunggu, sampai sekarang belum ada kabarnya," kata Tomedy seperti dikutip Tribunnews, Kamis (10/3/2016). [Sumber: Siyasa/Tarbiyah.net]